Kajian Landasan Pendidikan

 

Kamis 04 Mei 2017, 10:02 WIB

‘Terapi’ Aneh Kepsek Setrum Siswa di Malang dan Alat Lie Detector

Bagus Prihantoro Nugroho – detikNews

Foto: Muhammad Aminudin

Foto: Muhammad Aminudin

Jakarta – Entah apa yang ada di benak Kepala Sekolah SDN Lowokwaru III, Tjipto Yuwono yang menyetrum empat siswanya. Dia berdalih hal itu untuk terapi kesehatan. Apa benar?

“Saya belum pernah dengar ada terapi setrum listrik itu,” kata Mendikbud Muhadjir Effendy saat ditemui di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (3/5/2017).

Alat setrum yang dipakai oleh Tjipto untuk menyetrum siswa dirakitnya sendiri. Para siswa disterum usai melaksanakan salat Dhuha sebelum ujian nasional dimulai.
Siswa yang disetrum adalah RA, MK, MA, dan MZ. “Kepada kami saat diklarifikasi mengakunya begitu, empat anak itu dinilai berbeda dengan yang lain. Terapi diharapkan bisa mengubah mereka,” ungkap Ketua Komite SD Negeri Lowokwaru 3 Totok Edi Sucipto kepada detikcom.

Sudah pasti para orang tua keberatan dengan ‘terapi’ yang dilakukan Tjipto. Namun Tjipto mengaku sudah mempraktikkannya ke beberapa orang guru.

Kasus ini langsung diselidiki oleh Dinas Pendidikan Kota Malang. Salah seorang wali murid, Anita, pun membeberkan bagaimana anaknya disetrum.

Menurut Anita, mata anaknya ditutup. Kalau dibuka akan ditempeleng. “Ini perlakuan tidak bisa ditoleransi. Bentuk ancaman fisik kepada anak kami,” cerita Anita.

Meditasi dilakukan sekitar 10 menit. Tjipto mengambil sebuah alat yang dialirkan ke tegangan listrik. Dua alat berupa papan tersebut, salah satunya dipijak oleh Tjipto dan satunya lagi diminta para siswa menginjaknya.

“Pelaku juga pakai test pen yang diletakkan di kepala anak saya. Jika nyalanya terang, maka anak saya dinilai suka berbohong kepada orang tua. Ini sudah nggak benar,” keluh ibu dua anak ini. 

detikcom menelusuri berbagai bentuk alat pendeteksi kebohongan (lie detector). Pada sebuah situs jual beli online ada yang menjual alat semacam itu dengan banderol Rp 255.000 di Malang. Pihak penjual mengklaim alat ini bisa mendeteksi kebohongan dengan deteksi keringat.

Alat yang dijual itu memang memanfaatkan aliran listrik, tetapi berbeda cara kerja dengan buatan Tjipto. Pada alat yang dijual itu terdapat batasan usia yakni 14 tahun ke atas. Cara kerjanya pun seseorang diminta meletakkan tangannya pada alat, jika dia berbohong maka akan berkeringat dan tersengat listrik beraliran kecil. Namun fungsi alat ini juga masih sebatas klaim dari pihak penjual. Tak diketahui apakah alat ini memiliki izin khusus dari instansi terkait. 
(bag/fjp)

https://news.detik.com/berita/d-3491353/terapi-aneh-kepsek-setrum-siswa-di-malang-dan-alat-lie-detector

Kamis 04 Mei 2017, 11:17 WIB

Kronologi Terbongkarnya Kasus Penyetruman 4 Siswa SD di Malang

Muhammad Aminudin – detikNews

SDN Lowokwaru III Malang (Muhammad Aminudin/detikcom)

Malang – Aparat kepolisian tengah menyelidiki kasus penyetruman empat siswa SD Negeri Lowokwaru III, Malang, Jawa Timur, yang dilakukan Kepsek Tjipto Yuwono. Sejumlah saksi sudah dimintai keterangan.

Saksi yang dihadirkan termasuk orang tua para korban yang merupakan siswa kelas VI. Selama proses penyelidikan, petugas juga melakukan gelar perkara. Termasuk berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Malang. 

Berikut ini kronologi penyetruman berdasarkan keterangan Kapolres Malang Kota AKBP Hoiruddin Hasibuan kepada detikcom, Kamis (4/5/2017):

25 April 2017 pukul 10.00 WIB

Dilaksanakan kegiatan salat duha berjemaah di musala SD Negeri Lowokwaru III, Malang. Dalam pelaksanaan salat duha, ada empat siswa yang gaduh sehingga keempat orang siswa tersebut diberi nasihat oleh Kepala Sekolah Tjipto Yuwono. 

Selanjutnya Kepala Sekolah melakukan terapi kepada keempat siswa tersebut dengan menggunakan alat terapi listrik yang telah dialiri arus listrik. Masing-masing siswa diminta menginjak satu sisi kabel, sementara Kepala Sekolah menginjak sisi kabel lainnya. 

Kemudian Kepala Sekolah menempelkan testpen ke tangan para siswa secara bergantian dengan maksud menunjukkan bahwa terdapat aliran listrik di tubuh para siswa. Empat siswa korban penyetruman adalah RA, MZ, MA, dan MK. 

Sekembalinya dari sekolah, RA menyampaikan kejadian yang dialaminya tersebut kepada ibunya. Akibat kejadian tersebut, para siswa sempat mengalami pusing di kepala.

26 April 2017 

Anita Ulfa, salah satu orang tua murid, mendatangi SDN Lowokwaru III untuk meminta klarifikasi tentang kejadian yang dialami anaknya. 

27 April 2017 

Anita Ulfa mendatangi Dinas Pendidikan Kota Malang untuk melaporkan kejadian yang dialami oleh anaknya.

29 April 2017

Karena tidak puas dengan klarifikasi yang diberikan oleh pihak sekolah maupun respons dari pihak Dinas Pendidikan, Ulfa datang ke Polres Malang Kota untuk melakukan konsultasi perkara yang dialami anaknya tersebut. 
(rvk/tor)

https://news.detik.com/berita/d-3491461/kronologi-terbongkarnya-kasus-penyetruman-4-siswa-sd-di-malang

 

 

KAJIAN TEORI

  1. Berdasarkan Landasan Psikologis Pendidikan

Proses kegiatan Pendidikan melibatkan proses interaksi psiko-fisik dalam sosio-kultural yang antropologis-filosofis-normatif. Artinya, bahwa Pendidikan adalah suatu kegiatan yang menyangkut interaksi kejiwaan antara pendidik dan peserta didik dalam suasana nilai-nilai budaya suatu masyarakat (sebagai lingkungan Pendidikan) yang didasarkan pada nilai-nilai manusia.

Menurut Robert Havighurst, tugas perkembangan ialah tugas yang terdapat pada suatu tahap kehidupan sesorang , yang akan membawa individu kepada kebahagian dan keberhasilan dalam tugas -tugas pengembangan. Tahap-tahap pengembangan menurut Erickson, yang diadopsi oleh Sikun Pribadi (1984;156-159) sebagai berikut:

  1. The sense of trust (Kemampuan mempercayai), kira-kira 0-12 bulan kemampuan penghayatan yang dimulai saat manusia dilahirkan.
  2. The sense of authonomy (kemampuan berdiri sendiri) kira-kira umur 1,5 – 3 tahun . pada tahun ini anak menghadapi tugas untuk mempertegas kehadirannya sebagai manusia yang mempunyai kesadaran dan keamapuan sendiri serta berdiri sendiri walaupun masih membutukan bantuan orang lain.
  3. The sense of initiative (kemampuan berprakarsa) kira-kira umur 3,5-5,5 tahun pada umur ini menemukan kemampuan-kemampuan yang tersimpan dalam dirinya.seperti mengembangkan kemampuannya,banyak mencoba-mencoba , meniru orang lain mengembangakan daya fantasi,kreativitasnya,dan inisiatifnya.
  4. The sense of accomplishment (kemampuan menyelesaikan tugas) kira- kira sekitar umur 6-12 tahun . pada periode ini anak terhilat Nampak rajin dan aktif, karena ingin menyelesaikan tugas yang dirasakan oleh dirinya.
  5. The sense of identity (kemampuan untuk menyakini identitasnya) umur 12-18 tahun. Periode remaja ini dimana anak mencari identitasnya,yang dapat menjawab siapakah dia ,bagaimana sifat-sifat baiknya, dan hubungannya dengan orang lain.
  6. Tahap kedewasaan ada tiga tahap dalam periode ini keakraban(intimacy), kemampuan mengurus (generativity) dan tahap keutuhan pribadi(integrity).

Perkembangan kehidupan anak dapat dibagi ke dalam periodesasi sebagai berikut:

  1. Anak bayi(0-1 tahun)
  2. Kanak-kanak (1-5 tahun)
  3. Anak sekolah (6-12 tahun)
  4. Remaja atau adolensi (12-18 tahun)

Pada periode Anak sekolah (6-12 tahun) oleh Kohnstamm disebut periode “intelektual”, karena sebagian besar waktu dipergunakan untuk pengembangan kemampuan intelektualnya. Perhatian anak sebagian besar ditujukan kepada dunia ilmu pengetahuan. Minat periode ini disebut periode obyektif artinya perhatian lebih ditujukan kepada dunia kenyataan atau dunia obyektif , yang dianalisis dan disintesiskan, serta memahami adanya hukum sebab akibat.

  1. Berdasarkan Landasana Sosiologis- Atropologis Pendidikan
  2. Individu, Masyarakat, dan Kebudayaan

            Terdapat empat unsur di daam masyarakat yaitu:

1)      Manusia (individu-individu) yang hidup bersama

2)      Melakukan interaksi sosial dalam waktu yang cukup lama

3)      Mereka mempunyai kesadaran sebagai suatu kesatuan

4)      Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.

            Antara individu, masyarakat dan kebudayaannya tak dapat dipisahkan. Hal ini sebagaimana kita maklumi bahwa setiap individu hidup bermasyarakat dan berbudaya, adapun masyarakat itu sendiri terbentuk dari individu-individu. Masyarakat dan kebudayaan mempengaruhi individu, sebaliknya masyarakat dan kebudayaan dipengaruhi pula oleh individu-individu yang membangunnya.

            Struktur Sosial, Status, dan Peranan. Dalam struktur sosial tersebut setiap individu mempunyai kedudukan (statu) dan peranan (role) tertentu.

            Interaksi Sosial, Tindakan Sosial, Konformitas, Penyimpangan Tingkah Laku/Sosial, dan Kontrol Sosial. Dalam rangka memenuhi kebutuhan atau untuk mencapai tujuan-tujuannya,setiap individu maupun kelompok melakukan interaksi sosial,adapun dalam interaksi sosial tersebut mereka melakukan berbagai tindakan sosial, yaitu perilaku individu yang dilakukan dengan mempertimbangkan dan berorientasi kepada perilaku orang lain untuk mencapai tujuan tertentu.

 

  1. Pendidikan: Sosialisasi dan Enkulturasi

            Upaya Mempertahankan Kelangsungan Eksistensi Masyarakat dan Kebudayaan. Terhadap generasi mudanya masyarakat anatara lain melakukan apa yang di dalam sosiologi disebut sosialisasi (socialization), atau apa yang di dalam antropologi disebut enkulturasi (enculturation). Berbagai peranan harus dielajari oleh anak (individu anggota masyarakat) melalui proses sosialisasi; adapun mengenai kebudayaan perlu dielajarinya melalui enkulturasi.

            Sosialisasi dan Enkulturasi. Efinisi sosialisasi menekankan kepada pengambilan peranan, sedangkan definisi enkulturasi menekankan kepada  perolehan kompetensi budaya.

            Pendidikan. Pendidikan diuapayakan antara lain agar peserta didik mampu hidup bermasyarakat dan berbudaya.

 

  1. Pendidikan sebagai Pranata  Sosial

            Pranata Sosial. Perilaku terpola  yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasarnya (basic needs).

            Jenis Pranata Sosial. Terdapat berbagai pranata sosial antara lain: pranata ekonomi, pranata politik, pranata agama, pranata pendidikan, dsb.

            Pranata pendidikan merupakan salah satu pranata sosial dalam rangka proses sosialisasi dan/atau enkulturasi untuk mengantarkan individu ke dalam kehidupan bernasyarakat dan berbudaya, serta untuk menjaga kelangsungan eksisitensi masyarakat dan kebudayaannya.

 

  1. Pendidikan Informal, Formal, dan Nonformal
  2. Pendidikan Informal

            Yaitu pendidikan yang berlangsung/terselenggara secara wajar atau secara alamiah di dalam lingkungan hidup sehari-hari.

  1. Pendidikan Informal dalam Keluarga

            Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang bersifat universal, artinya terdapat di setiap tempat di mana pun.

            Jenis atau bentuk keluarga. Berdasarkan keanggotaannya, keluarga dibedakan menjadi keluarga batih dan kelurga luas. Berdasarkan garis keturunannya yaitu: keluarga patrilinial, keluarga matrilineal dan keluarga bilateral. Berdasarkan pemegang kekuasaannya: keluarga patriarhat, keluarga matriarhat dan keluarga equalitarian. Berdasarkan bentuk perkawinannya: keluarga monologi, keluarga poligami dan keluarga poliandri. Berdasarkan status sosial ekonominya: keluarga golongan rendah, keluarga golongan menengah dan keluarga golongan tinggi. Berdasarkan keutuhannya: keluarga utuh, bercerai, dan keluarga pecah semu.

            Fungsi keluarga. Anropolog bernama George Peter Murdock mengemukakan empat fungsi keluarga yang bersifat universal:

  1. Sebagai pranata yang membenarkan hubungan seksual antara pria dan wanita dewasa berdasarkan pernikahan
  2. Mengembangkan keturunan
  3. Melaksanakan pendidikan
  4. Sebagai kesatuan ekonomi
  5. Pendidikan Informal dalam Masyarakat

Pendidikan informal dalam masyarakat antara  lain dapat berlangsung melalui adat kebiasaan, pergaulan anak sebaya, upacara adat, pergaulan di lingkungan kerja, permainan, pagelaran seni dan bahkan percakapan biasa sehari-hari.

  1. Pendidikan Formal (Sekolah)                  

            Sekolah sebagai Pranata Sosial. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

            Komponen Sekolah. Tiga komponen utama sekolah yang menjadi syarat agar sekolah dapat melaksanakan fungsi minimumnya yaitu peserta didik, guru dan kurikulim.

Sekolah sebagai Pranata/Lembaga Pendidikan Formal. Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah merupakan kesatuan kegiatan-kegiatan menyelenggarakan pembelajaran yang dilakukan oleh para petugas khusus dengan cara-cara yang terencana dan teratur menurut tatanan nilai dan norma yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Formalitas sekolah merembes ke dalam Kurikulum dan Pembelajaran

Formalitas sekolah berakar pada status para individu yang menjadi komponennya, serta nilai dan norma yang serba resmi.Formalitas tersebut merembus ke dalam kurikulum dan cara-cara pembelajaran.

  • Fungsi Pendidikan Sekolah:
  1. Fungsi trasmisi kebudayaan masyarakat
  2. Fungsi sosialisasi
  3. Fungsi integrasi sosial
  4. Fungsi Mengembangkan kepribadian individu/anak
  5. Fungsi mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan

6.Fungsi inovasi

  • Perbedaan Sosialisasi di Sekolah dan di dalam Keluarga:
  1. Kemandirian (independence)
  2. Prestasi (achievement)
  3. Universalisme (uiversalism)
  4. Specifity (spesifity)
  5. Pendidikan Nonformal
  6. Landasan Yuridis Pendidikan

Hak dan Kewajiban warga Negara, Orang Tua, Masyarakat, Negara dan Pemerintah Hak dan Kewajiban Warga Negara.

Pasal 31 ayat (1) UUD 1945 memberikan jaminan bahwa: “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Selanjutnya dalam Pasal 5 UU RI No. 20 Tahun 2003 dijabarkan lagi bahwa: (1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. (2) Warga negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. (3) Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus. (4) Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus. (5) Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat.

 

PEMBAHASAN

Menurut pendapat saya,dari kasus diatas kita dapat melihatnya dalam berbagai sudut pandang yang berbda mulai dari sundut pandang guru atau kepala sekolah itu sendiri , siswa sebagai korban dan orang tua korban. Namun saya akan membahasnya menurut sudut pandang saya menngacu kepa tiap sudut pandang dan berdasarkan landasan- landasan Pendidikan. Dalam hal ini pedidikan yang seharusnya mendidik peserta didik untuk menjadi lebih baik tercoreng oleh oknum kepala sekolah yang mungkin memiliki tujuan yang baik namun dengan cara yang salah.

Pada dewasa ini Pendidikan semakin lama semakin meningkat oleh dengan kemajuan zaman bahkan menyesuaikan sebagaimana pendidikan Indonesia yang mengikuti perkembangan global. Kemajuan teknologi yang pesat membuat semuan orang dapat dengan mudah mengakses internet untuk berbagai keperluan. Merujuk pada kasus ini mungkin pada awalnya oknum kepala sekolah ini memiliki niat baik dengan melakukan terapi dengan membuat sendiri alatnya yang bersala dari internet itu. Namun kita juga harus sadar bahwa yang dilakukan oknum kepa sekolah itu tidak pantas dilakukan apalagi alat yang digunakan adalah alat yang tidak memiliki sertifikasi resmi atau aman bagi semua pengunannya.

Merujuk pada Landasan psikologis Pendidikan dimana korban yang merupakan siswa kelas 6 Sekola Dasar (SD) yang rata- rata usia11-12 tahun. Pada tahun tahun itu tahapan perkembangannya memasuki The sense of accomplishment (kemampuan menyelesaikan tugas) pada periode ini anak terlihat nampak rajin dan aktif, karena ingin menyelesaikan tugas yang dirasakan oleh dirinya. Oleh karena tahap perkembangan inilah mungkin saja anak tersebut gaduh. karena pada masa ini dimana anak-anak banyak mengalami perubahan dan wajar saja menurut saya apabila ada yang gasuh pada saat sholat duha. Karena pada dasarnya anak- anak diusia tersebut belum memiliki kesadaran yang cukup untuk menjaga kekhusuan saat beribadah.

Pada tahap ini juga sebaiknya sebagai pendidik kita memberikan hukuman yang wajar dan juga mendidik. Memberi hukuman dengan dalih terapi menurut saya sangat tidak begitu manusiawi apalagi dengan alat yang tidak teruji. Psikologis anak pada saat tahap ini dia akan mengingatnya selalu kejadian yang menimpa dia. Perbuatan oknum kepala sekolah ini membuat trauma tersendiri kepada psikologis anak itu. Karena pemberiaan hukuman yang tidak selaknya diberikan. Pada periode Anak sekolah (6-12 tahun) oleh Kohnstamm disebut periode “intelektual”, karena sebagian besar waktu dipergunakan untuk pengembangan kemampuan intelektualnya. Ini juga akan mempengaruhi pada masa aktif belajarnya.

Merujuk pada Landasan Antropologis-sosiologis Pendidikan. Pendidikan seharusnya diupayakan antara lain agar peserta didik mampu hidup bermasyarakat dan berbudaya. Melihat kasus tersebut sebagai komponen utama sekolahh seharusnya kepala sekolah bertindak untuk tidak semena -mena walaupun sebagai pimpinan sekolah. Apabila siswa tersebut melanggar sebaiknya diberi peringatan terlebih dahulu kemudian diberikan beberapa tindakan yang lebih mendidik atau hukuman social.

Hukuman seperti kasus diatas menurut saya tidak terlalu etis karena hukumannya tidak mendidik dengan dalih terapi yang belum terbukti bahwa alat yang di pakai bias menyebuhkan siswa tersebut. Selain itu peralatan yang bisa dibilang sederhana sangatlah berbahaya apabila terjadi konsleting listrik. Sebaiknya apabila memang anak anak itu membuat kegaduhan dan berulang bias memanggil orangtuanya dan melakukan panggilan dan dijelaskan secara baik- baik.  Sekolah yang memiliki fungsi mengembangkan kepribadian individu/anak pada sekolah tersebut tidak belangsung baik dengan pemberian hukuman yang tidak wajar.

 

Dari sundut orangtua sebaiknya mengajarkan budi pekerti yang baik kepada anaknya. dimana Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang bersifat universal, artinya terdapat di setiap tempat di mana pun. Peran orang tua sangatlah penting dalam mendidik anak anak nya supaya beretika, berperilaku, bernorma dengan baik ketika melakukan ibadah dimana pun. Selain iu juga oramg tua sebaiknya memberikan Pendidikan informal. Pendidikan informal dalam masyarakat antara lain dapat berlangsung melalui adat kebiasaan, pergaulan anak sebaya, upacara adat, pergaulan di lingkungan kerja, permainan, pagelaran seni dan bahkan percakapan biasa sehari-hari.

Namun dalam hal ini juga orangtua harus aktif sebagai pengawas dan pendidik. Pengawas disini dimana orang tua harus mengawasi setiap kegiatan ayang dilakuakan anaknya di sekolah maupun dilingkungannya. Sebagai pendidik dimana orangtua sebagai pendidik keluarga yang mengajarkan selain dari Pendidikan formal sekolah bagaimana menjaga atau mencegah apabila kasus diatas terjadi, namun kasus diatas sang anak langsung berbicara pada orangtuanya bahwa telah terjadi kejadian itu yang membuat orang tua langsung mengetahui kasus tersebut.

 

Merujuk pada Landasan Yuridis Pendidikan seharusnya kewajiban sebagai warga negara adalah mendapat Pendidikan yang layak. Sesuai dengan undang-undang yaitu Pasal 31 ayat (1) UUD 1945 memberikan jaminan bahwa: “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Oleh karena itu sangatlah wajib bagi seluruh warga negara mempunyai hak yang sama dalam mendapat Pendidikan. Bagaimana dengan kasus diatas sebetulnya hak warga negara telah dipenuhi namun hak tersebut dipergunakan tidak se indah undang undang dengan adanya kasus diatas warga negara( anak) mendapat perlakuan yang menurut saya kurang layak.

 

Dalam Pasal 5 UU RI No. 20 Tahun 2003 dijabarkan lagi bahwa: (1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Namun pada kasus ini oknum kepala sekolah yang dimana sebagai pimpinan  sekolah tidak mengamalkan undang – undang tersebut. terhadap anak didiknya yang dimana anak tersebut tidak mendapat Pendidikan yang mutu. Bukan dalam masalaha sarana prasana, belajar mengajar,dan sebagainya namun dalam menciptakan moral yan baik sebagai penerus bangsa.

 

Apabila oknum kepala sekolah tersebut dalam kasus ini beralasan anak didiknya mempunyai perbedaan seharus dia tidak sewenang – wenang karena telah di atur. Dalam Pasal 5 UU RI No. 20 Tahun 2003 dijabarkan lagi bahwa: (2) Warga negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Dan bukan malah melakuakn terapi yang belum tentu bias menyembuhkan anak tersebut walau telah mencoba pada beberapa guru di sekolah tersebut.

Dalam Pasal 5 UU RI No. 20 Tahun 2003 dijabarkan lagi bahwa: (4) Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus. Seharusnya pserta didik yag dikiranya perbedaan itu dibimbing dan dibina untuk menjadi lebih baik. Dan pada ayat   (5) Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat. Dalam hal kasus ini membuat si anak terganggu psikologisnya karena menurut saya ditakutkan maslah ini akan diingat terus menerus hingga di dewasa bahkan mungkin menjadi pelaku serupa.

Kesimpulannya setiap warga negara berhak mendapatkan pendidkan yang layak dan sebagi pendidik juga harus mengerti bagaimana pola perilaku peserta didik terhadapa psikologis, antropologis dan sosiologis anak tersebut. Peran guru memang sangatlah berat namun kita harus tetap menjaga perilaku karena guru adalah hal yang akan diingat oleh anak. Perbuatan pada kasus ini saya berpendapat tidak setuju dengan yang dilakukan oleh oknum guru tersebut. Karena menurut saya sangat tidak logis dengan alasan yang dikemukakan. Selain itu juga alat yang dipergunakan yang tidak sesuai standar dan keamanan bagi anak tersebut. Hubungan orangtua dan anak sangatlah penting karena pada kasus ini hubungan yang baik dapat mengunkap kasus ini. Selain itu juga peran orangtua sebagai pengawas anaknya di sekolah harus lebih intensif agar orang tua mengetahui apa saja yang dilakukan anaknya di sekolah maupun di rumah.

  File dapat didownload di : KAJIAN LANDASAN PENDIDIKAN

 

Hello world!

Welcome to Blog Civitas UPI. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!